Tawarkan Umroh Rp10 Jutaan, Saleh: Itu Pasti Abal-abal

Tawarkan Umroh Rp10 Jutaan, Saleh: Itu Pasti Abal-abal
Kepala Kantor Kemenag Nunukan, H. M Saleh (kanan) didampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kantor Kemenag Nunukan, H. Sayid Abdullah (kiri).

NUNUKAN - Kepala Kantor Kemenag Nunukan, H. M Saleh meminta kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati lagi jika ingin berangkat umroh dengan jasa travel. Sebab, kata dia, kemungkinan masih ada travel abal-abal yang masih 'bergentangan' di Indonesia, tak terkecuali Kabupaten Nunukan.

"Contoh, kasus di Nunukan kan sudah ada. Ijin di Provinsi Kaltim tapi buka cabang di Nunukan. Itukan tidak bisa. Karena dia hanya melayani Kaltim. Banyak juga travel membuka cabang tanpa ijin dari pemerintah. Karena travel ini bisnis yang menggiurkan," terangnya usai melakukan coffe morning, Jumat (19/6/2020).

Dia menjelakan travel abal-abal ini sangat merugikan masyarakat. Seperti dana tidak dikembalikan dan prosesnya pun tidak jelas. Apalagi, jika ada travel yang menawarkan harga umroh kisaran Rp10 jutaan, kata dia, patut dipertanyakan. "Karena biaya umroh minimal itu Rp21 jutaan. Kalau ada dibawah harga itu pasti bohong sudah, tidak benar," pungkasnya.

Sejauh ini, kata dia, travel yang terdaftar dan mendapatkan ijin dari provinsi baru ada 6 travel. Itu pun dua diantaranya masih berproses. Enam travel ini berada di Sebatik satu dan 5 travel di Nunukan. "Makanya bagi masyarakat yang ber-umroh harus berhati-hati lagi memilih jasa travel," pungkasnya.

Untuk perijinan travel saat ini, kata dia, sudah semakin ketat. Bahkan setiap tahun dan setiap triwulan kementerian agama melakukan evaluasi yang dilakukan secara online. "Artinya, travel sudah ada ijin ini terkontrol secara online. Mulai dari calon yang mendaftar umroh paling tiga bulan sebelum berangkat. Kemudian, harus ada hotel yang sudah di pesan, tiket sudah ada, komsumsinya sudah ada. Baru Visa umrohnya keluarkan kalau sudah memeneuhi syarat itu," pungkasnya.

Dalam 5 tahun belakangan ini, diakuinya, memang kehadiran travel kurang bagus.  "Nah, sekarang kan makin berkurang travel nakal. Dengan sendirinya dia bubar. Kecuali, travel yang memiliki niat baik masih berdiri sampai saat ini," tambahnya.

Sementara untuk travel yang sudah terdaftar, diharapkan untuk tidak saling menjatuhkan dan saling sindir menyindir antar travel. "Atau saling sikut-menyikut. Kalau perlu harus merangkul, kerjasama antar travel. Persaingan boleh, tapi secara sehat dengan syariah agama dan aturan," ungkapnya.(*)