Mengawali lembaran tahun 2026, industri pariwisata di Nusa Tenggara Barat menghadapi tantangan yang cukup berat. Berdasarkan laporan terbaru, arus kedatangan pelancong baik dari dalam maupun luar negeri menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha jasa akomodasi di seluruh wilayah Bumi Gora.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kemerosotan tajam pada Tingkat Penghunian Kamar atau TPK di wilayah tersebut. Untuk kategori hotel berbintang, angka okupansi dilaporkan menyusut hingga menyentuh angka 6,97 poin. Penurunan ini menjadi indikator nyata bahwa aktivitas menginap di NTB sedang mengalami kelesuan yang cukup dalam pada awal tahun.
Tidak hanya hotel berbintang, penginapan kelas nonbintang juga turut merasakan dampak negatif dari penurunan jumlah kunjungan ini. Data resmi menunjukkan bahwa tingkat hunian akomodasi nonbintang terpangkas sebesar 4,52 poin dibandingkan masa sebelumnya. Fenomena ini menggambarkan bahwa seluruh lini sektor perhotelan sedang berjuang menghadapi sepinya pemesanan kamar dari para pelancong.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, memberikan penjelasan mendalam mengenai situasi yang sedang terjadi di sektor pariwisata daerah tersebut. Dalam rilis resmi di Mataram pada Senin (2/3/2026), ia memaparkan faktor-faktor yang melandasi pergeseran angka statistik ini. Wahyudin menegaskan bahwa kondisi ini merupakan bagian dari dinamika tahunan yang sering berulang di industri pariwisata.
Menurut analisis Wahyudin, penurunan drastis ini merupakan dampak langsung dari siklus tahunan pasca-libur panjang yang baru saja usai. Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang meriah biasanya memang diikuti oleh periode sepi pengunjung yang signifikan. Selain itu, berakhirnya masa libur sekolah juga turut berkontribusi pada berkurangnya mobilitas wisatawan domestik secara keseluruhan.
Transisi dari masa puncak liburan menuju hari kerja normal menjadi penyebab utama lesunya pergerakan orang yang masuk ke wilayah NTB. Pola konsumsi masyarakat yang cenderung berhemat setelah pengeluaran besar di akhir tahun juga menjadi variabel yang memengaruhi. Hal ini mengakibatkan banyak kamar hotel yang biasanya penuh kini menjadi kosong tanpa penghuni dalam waktu singkat.
Meskipun angka-angka menunjukkan penurunan, pihak otoritas tetap memantau perkembangan situasi ini dengan saksama untuk langkah mitigasi selanjutnya. Harapannya, sektor pariwisata NTB dapat segera bangkit kembali melalui berbagai promosi dan agenda wisata menarik mendatang. Stabilitas ekonomi daerah sangat bergantung pada pemulihan arus kunjungan wisatawan yang menjadi tulang punggung wilayah tersebut.
Sumber: Portal7