JABARONLINE.COM, Jakarta,– Menjelang peringatan Hari Pers 2026, kondisi industri media di Indonesia dinilai sedang tidak baik-baik saja. Sepanjang 2025, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) wartawan di sejumlah perusahaan media arus utama menjadi sorotan utama, sekaligus menandai rapuhnya pers sebagai pilar demokrasi.
Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat 2023-2025 sekaligus pendiri Forum Wartawan Kebangsaan (FWK), Hendry Ch Bangun, menyebut pers saat ini berada dalam situasi genting.
“Pers berada di tahun vivere pericoloso, nafasnya sudah di leher. Dibutuhkan terobosan agar pers kembali menjadi pilar utama demokrasi,” ujarnya.
Isu tersebut menjadi topik utama dalam acara Refleksi Hari Pers 2026 yang digelar FWK di Gedung Evident Institute, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).
Dalam forum itu, sejumlah wartawan senior berkumpul membahas langkah strategis untuk mengembalikan kekuatan pers, sekaligus menopang stabilitas bisnis industri media massa.

Buku “Connecting Media Massa” Diluncurkan
Dalam kesempatan tersebut, FWK juga meluncurkan buku berjudul “Connecting Media Massa: Transformasi TV Berita di Era Mediamorfosis”, karya praktisi media sekaligus produser senior tvOne, Taufan Hariyadi.
Taufan menilai televisi berita arus utama ke depan akan berperan sebagai lembaga validasi sebuah peristiwa.
“TV berita akan menjadi second screen bagi publik,” katanya.
Ia memandang tantangan pers hari ini harus dilihat dari tiga perspektif: fungsi jurnalistik, teknologi, dan bisnis.