Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bone kini tengah menjadi sorotan tajam masyarakat luas. Pelaksanaan program selama Ramadan 2026 tersebut memicu gelombang protes keras akibat kualitas hidangan yang dinilai buruk. Unggahan kekecewaan dari para wali murid pun seketika viral di berbagai platform media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Temuan di lapangan menunjukkan kondisi hidangan yang sangat memprihatinkan dan dinilai membahayakan kesehatan siswa. Sejumlah orang tua melaporkan adanya roti yang sudah berjamur serta telur dengan aroma tidak sedap dalam paket makanan. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius mengenai standar keamanan pangan yang diterapkan oleh pihak penyelenggara di wilayah tersebut.
Paket makanan yang dibagikan kepada para siswa dinilai tidak memenuhi kriteria gizi seimbang yang dijanjikan. Menu tersebut didominasi oleh kudapan kering dan buah-buahan yang hanya dibungkus menggunakan plastik biasa tanpa label informasi yang jelas. Para wali murid merasa kualitas makanan tersebut sangat jauh dari standar kesehatan yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Transparansi anggaran program MBG di Kabupaten Bone turut menjadi poin krusial yang kini dipertanyakan oleh publik. Meskipun anggaran dipatok sebesar Rp 15 ribu per porsi, kenyataan di lapangan justru memperlihatkan kondisi yang sangat berbeda. Warga mencurigai adanya potensi penyimpangan dana karena nilai fisik makanan ditaksir hanya berkisar dua ribu rupiah saja.
Kegaduhan ini memicu desakan dari berbagai pihak agar dilakukan audit menyeluruh terhadap seluruh alokasi dana program tersebut. Ketidaksesuaian antara besaran anggaran dan kualitas menu dianggap dapat mencederai kepercayaan masyarakat terhadap program strategis nasional ini. Selain itu, keselamatan konsumsi para siswa yang sedang menjalankan ibadah puasa menjadi taruhan utama yang tidak boleh diabaikan.
Menanggapi polemik yang semakin meluas, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, akhirnya memberikan pernyataan resmi. Pihaknya berkomitmen untuk segera melakukan evaluasi total terhadap seluruh mitra pelaksana yang terlibat dalam distribusi di Bone. Fokus pembenahan akan mencakup sistem pengemasan, komposisi menu, hingga penghitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG) secara transparan.
Langkah tegas ini diharapkan dapat memperbaiki carut-marut pelaksanaan program MBG agar lebih baik di masa mendatang. Pemerintah berjanji akan lebih selektif dalam mengawasi mitra kerja agar kejadian serupa tidak terulang kembali di daerah lain. Kepastian mengenai kualitas gizi dan keamanan pangan tetap menjadi prioritas demi mendukung kesehatan serta tumbuh kembang generasi muda.