Arus informasi digital yang masif saat ini sering kali membawa masyarakat terjebak dalam pusaran perdebatan tanpa nilai spiritual. Platform media sosial yang awalnya menjadi sarana silaturahmi kini justru kerap beralih fungsi menjadi arena pertarungan ego antarindividu. Fenomena ini mencerminkan adanya penurunan kualitas moral yang cukup mengkhawatirkan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Banyak pengguna internet yang kini lebih mementingkan kemenangan dalam berargumen daripada mencari kebenaran yang hakiki. Semangat untuk menjatuhkan lawan bicara sering kali mengabaikan prinsip menjaga kehormatan sesama Muslim dalam setiap interaksi sosial. Padahal, setiap tindakan di dunia digital tetap memiliki konsekuensi moral dan spiritual yang mendalam bagi pelakunya.

Sebagai hamba Allah, setiap individu dituntut untuk merenungkan kembali esensi dari setiap komunikasi yang dilakukan agar tidak berakhir sia-sia. Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat tegas agar manusia tidak saling merendahkan satu sama lain dalam situasi apa pun. Hal ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang di mata Tuhan tidak ditentukan oleh seberapa hebat mereka berdebat.

Landasan etika ini termaktub dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 yang melarang kaum beriman untuk saling mengolok-olok atau mencela. Ayat tersebut menegaskan bahwa bisa jadi orang yang direndahkan justru memiliki kedudukan yang lebih mulia di sisi Allah SWT. Selain itu, umat Muslim dilarang keras saling memanggil dengan julukan yang buruk atau bersifat fasik setelah beriman.

Ketika seseorang mulai memandang rendah orang lain karena perbedaan pandangan politik atau pemahaman agama, benih kesombongan mulai tumbuh. Penyakit hati ini secara perlahan akan menggerogoti kualitas iman dan merusak tatanan persaudaraan yang telah dibangun. Larangan agama ini bukan sekadar norma sosial, melainkan perintah yang berkaitan erat dengan integritas spiritual seseorang.

Di tengah badai perbedaan pendapat yang kian tajam, menjaga lisan dan sikap menjadi tantangan besar bagi masyarakat modern. Sering kali, kata-kata tajam dilemparkan tanpa memikirkan dampak psikologis maupun sosial bagi pihak yang menjadi sasaran kritik. Transformasi digital seharusnya dibarengi dengan kedewasaan sikap agar ukhuwah tetap terjaga di tengah keberagaman pemikiran.

Kesadaran untuk menempatkan adab di atas ilmu menjadi kunci utama dalam meredam konflik di ruang publik digital. Bertobat dari perilaku zalim seperti mencela dan menghujat merupakan langkah awal untuk memperbaiki kualitas hubungan antarmanusia. Dengan menjaga kehormatan sesama, maka harmoni sosial dan nilai-nilai luhur keagamaan dapat tetap tegak berdiri.

Sumber: Portal7

https://portal7.co.id/post/adab-di-atas-ilmu-menjaga-ukhuwah-di-tengah-badai-perbedaan-pendapat