INFOTERKINI.ID - Di kaki bukit kapur yang diselimuti debu abadi, hiduplah Elara, seorang gadis yang matanya menyimpan lautan kesedihan yang tak terucap. Ia adalah yatim piatu di desa yang nyaris dilupakan, tempat setiap matahari terbit terasa seperti pengulangan dari kemarin yang sama pahitnya.
Setiap pagi buta, Elara akan mendaki, bukan mencari air atau makanan, melainkan mencari pecahan kaca berwarna yang ia yakini adalah serpihan bintang yang jatuh ke bumi. Ia mengumpulkan harapan-harapan kecil itu dalam sebuah kotak kayu reyot.
Desa itu perlahan mati, ditinggalkan oleh mereka yang mencari kehidupan yang lebih mudah di kota besar, namun Elara memilih bertahan, menanam benih mimpi di tanah yang menolak tumbuh. Kegigihannya sering dianggap kegilaan oleh segelintir tetangga yang tersisa.
Suatu ketika, seorang musafir tua bernama Kakek Jati datang, membawa serta kecapi tua dan senyum yang lebih hangat dari mentari pagi. Kakek Jati melihat lebih dari sekadar debu pada diri Elara; ia melihat potensi sebuah epik.
Kakek Jati mulai mengajarkan Elara tentang harmoni, bahwa bahkan suara terkeras pun berasal dari getaran paling lembut. Ia berkata, "Hidupmu, Nak, adalah sebuah Novel kehidupan yang belum selesai ditulis, dan kamu adalah penulis sekaligus tokoh utamanya."
Elara mulai memetik pecahan kaca itu, menyusunnya di atas kain hitam tua, menciptakan mozaik yang memantulkan cahaya bulan dengan cara yang ajaib. Mozaik itu menjadi panggung bagi cerita-cerita yang ia ciptakan dari kesendiriannya.
Tiba-tiba, sebuah kemarau panjang yang tak terduga melanda, mengancam untuk melenyapkan sisa-sisa kehidupan di desa itu selamanya. Keputusasaan mulai merayap, mencoba mencuri melodi terakhir dari hati Elara.
Namun, Elara menolak menyerah pada takdir yang suram itu. Ia membawa mozaik bintangnya ke puncak bukit saat malam paling gelap, menyanyikan lagu tentang hujan yang ia ciptakan dari setiap nada yang diajarkan Kakek Jati.
Saat fajar menyingsing, bukan hujan yang turun, melainkan para pemuda desa yang telah lama pergi, tergerak oleh kabar tentang gadis pemetik bintang yang menolak menyerah pada kegelapan. Mereka kembali membawa benih dan air, tertarik oleh cahaya yang tak pernah padam.