JABARONLINE. COM, — Inovasi bahan bakar berbasis jerami yang dikembangkan Bobibos disebut sudah siap diproduksi secara massal. Namun, realisasinya di Indonesia masih terkendala belum adanya regulasi khusus terkait bahan bakar alternatif tersebut.
Hal itu disampaikan Mulyadi, pembina Bobibos, di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia menjelaskan, secara teknis produksi sudah siap, termasuk bahan baku, mesin, hingga skema kerja sama dengan sejumlah pihak.
“Masalah utamanya bukan di teknis, tapi regulasi. Di Indonesia belum ada aturan khusus terkait bahan bakar dari jerami,” ujar Mulyadi.
Mulyadi menjelaskan, setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan asal Timor Leste, pihaknya langsung menyusun action plan bersama. Dalam kerja sama tersebut, Bobibos difasilitasi gudang, pabrik, serta lahan sekitar 25.000 hektare, dengan tahap awal seluas 5.700 hektare.
“Soal kapasitas produksi masih kami diskusikan, karena itu berkaitan langsung dengan bahan baku, mesin produksi, dan fasilitas yang akan dibangun di Primo Mestre,” jelasnya.
Ia menargetkan produksi awal bisa dimulai Januari hingga paling lambat Februari, dengan peluncuran perdana oleh pemerintah Timor Leste.
Terkait komunikasi dengan pemerintah pusat, Mulyadi menegaskan pihaknya tetap mengikuti jalur koordinasi dan prosedur kelembagaan. Ia mengaku telah melaporkan proyek tersebut kepada pimpinan organisasi, legislatif, hingga sejumlah kementerian.
“Dalam konteks koordinasi, kami sudah menyampaikan ke pimpinan, ke Ketua Komisi III, Komisi XII, hingga sejumlah lembaga terkait. Bahkan sudah diundang oleh Bappenas dan lembaga lain,” ungkapnya.
Mulyadi juga menanggapi isu kerja sama dengan Lembur Pakuan yang sempat ramai dibicarakan. Ia menyebut, pihaknya justru sudah siap dari sisi mesin, bahan baku, hingga pendanaan.