INFOTERKINI.ID - Rumi tak pernah menyangka bahwa kehangatan bengkel kayu miliknya akan terasa sedingin ukiran es setelah kepergian sang istri. Aroma serbuk kayu yang dulu menenangkan kini menusuk paru-parunya, pengingat bisu akan janji yang tak sempat terucap tuntas. Ia duduk di antara pahat dan gergaji, membiarkan debu menutupi jejak langkahnya yang kini terasa pincang.

Setiap potongan kayu yang ia pegang terasa berat, seolah membawa beban kenangan yang tak sanggup ia pikul sendirian. Dunia seolah berhenti berputar, hanya menyisakan gema tawa yang kini berubah menjadi bisikan pilu di sudut-sudut rumah. Rumi mencoba mencari pelipur lara dalam kesibukan, namun kekosongan itu terlalu besar untuk diisi oleh sekadar pekerjaan.

Suatu sore, seorang gadis kecil bernama Laras sering mampir, membawa bunga liar yang ia temukan di tepi sungai. Laras, dengan mata penuh rasa ingin tahu, tak pernah menanyakan kesedihan Rumi, melainkan meminta dibuatkan mainan sederhana dari sisa kayu. Kehadiran polos itu perlahan mencairkan lapisan es yang menyelimuti hati sang pemahat.

Rumi mulai mengukir lagi, bukan lagi patung-patung rumit yang dulu ia banggakan, melainkan bentuk-bentuk sederhana sesuai permintaan Laras: seekor burung, perahu kecil, dan rumah-rumahan mini. Proses ini menjadi terapi sunyi, sebuah cara untuk memahat ulang kepingan jiwanya yang tercerai-berai.

Inilah yang disebut Novel kehidupan, kisah tentang bagaimana kita dipaksa untuk tumbuh ketika fondasi kita runtuh. Rumi menyadari bahwa kehilangan bukanlah akhir dari cerita, melainkan jeda sebelum babak baru dimulai dengan narasi yang berbeda. Ia mulai melihat cahaya samar di celah-celah kegelapan yang selama ini ia yakini abadi.

Kisah Rumi menarik perhatian warga desa; mereka melihat transformasi dari seorang pria yang terpuruk menjadi penopang harapan baru bagi anak-anak sekitar. Bengkelnya yang tadinya sunyi kini ramai oleh tawa dan permintaan ukiran, sebuah simfoni kehidupan yang kembali menggema.

Namun, di tengah kebangkitannya, Rumi menemukan sebuah kotak kayu tua di loteng, milik mendiang istrinya, yang tertutup rapat. Kotak itu berbau lavender dan menyimpan rahasia yang selama ini tersembunyi dari pandangannya.

Saat ia berhasil membuka kotak itu, bukan surat perpisahan yang ia temukan, melainkan sebuah sketsa belum selesai dari desain sebuah galeri seni, lengkap dengan catatan kecil tentang impian mereka berdua.

Rumi menatap sketsa itu, air mata kembali membasahi pipinya, bukan lagi air mata duka, melainkan air mata pemahaman. Apakah ia akan melanjutkan perjalanan ini sendirian, ataukah dengan memanggul impian mereka bersama, ia akan menemukan pelangi sejati setelah badai panjang ini?