Women Crisis Center (WCC) Puantara melakukan langkah terobosan dalam upaya menekan angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kota Pahlawan. Mereka menyelenggarakan seminar publik inovatif yang melibatkan puluhan pengemudi transportasi daring sebagai peserta utama. Agenda ini bertujuan untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.
Kegiatan bertajuk "Melalui Film, Kolaborasi Multi Pihak dalam Pencegahan dan Penanganan KDRT" ini berlangsung di Kantor DP3APPKB Kota Surabaya. Acara yang digelar pada Jumat, 13 Februari 2026 tersebut dihadiri oleh sedikitnya 60 pengemudi Grab. Kehadiran mereka memberikan warna baru dalam diskusi mengenai isu sensitif yang kerap terjadi di ruang privat.
Seminar ini diselenggarakan secara khusus untuk memperingati Hari Perempuan Internasional tahun 2026 mendatang. WCC Puantara memilih media film sebagai instrumen untuk memicu dialog mendalam di antara para peserta yang hadir. Pendekatan visual ini dinilai lebih efektif dalam menyampaikan pesan moral serta edukasi hukum terkait kekerasan domestik.
Keterlibatan pengemudi ojek daring dianggap sangat strategis karena posisi mereka yang bersentuhan langsung dengan berbagai lapisan masyarakat setiap hari. Mereka sering kali menjadi saksi mata atau bahkan mendengar keluh kesah penumpang terkait masalah rumah tangga. Oleh karena itu, membekali mereka dengan pengetahuan yang tepat merupakan langkah preventif yang sangat krusial.
Dalam sesi diskusi, para pengemudi tidak hanya sekadar mendengarkan materi teori dari para ahli di bidangnya. Banyak di antara mereka yang berani berbagi pengalaman nyata, baik sebagai penyintas maupun saksi mata kejadian KDRT. Hal ini mengubah suasana seminar menjadi ruang kesaksian yang emosional namun tetap penuh dengan pembelajaran berharga.
WCC Puantara menegaskan bahwa pengemudi transportasi daring kini dipandang sebagai agen perubahan sosial di tingkat akar rumput. Mereka diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama atau informasi rujukan jika menemui kasus kekerasan saat bekerja di lapangan. Sinergi ini diharapkan dapat memutus rantai KDRT yang selama ini sering tertutup rapat dari jangkauan publik.
Melalui kolaborasi multi-pihak ini, Surabaya diharapkan menjadi kota yang lebih responsif terhadap isu-isu perlindungan perempuan. Program edukasi serupa rencananya akan terus dikembangkan dengan menyasar berbagai komunitas pekerja sektor informal lainnya. Kesadaran kolektif dari berbagai lapisan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghapus segala bentuk kekerasan.