INFOTERKINI.ID - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono secara resmi mengajak Bank Mandiri untuk meningkatkan peranannya dalam agenda pengentasan kemiskinan skala nasional. Ajakan strategis ini difokuskan pada penguatan skema pemberdayaan ekonomi bagi kelompok masyarakat rentan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk bertransformasi dalam penyaluran bantuan sosial. Tujuannya adalah menggeser paradigma dari sekadar distribusi dana tunai menjadi upaya konkret dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan langsung oleh Wamensos saat menerima kunjungan audiensi dari perwakilan Bank Mandiri di Jakarta pada hari Senin (13/4/2026). Momen ini menjadi penegasan komitmen pemerintah terhadap sektor perbankan BUMN.
"Inilah yang diinginkan Presiden (Prabowo Subianto), agar Himbara lebih terlibat dalam upaya menggerakkan pemberdayaan," kata Agus Jabo Priyono, Wakil Menteri Sosial RI. Pernyataan ini menekankan visi kepresidenan untuk melibatkan bank-bank milik negara.
Agus Jabo menyoroti adanya tantangan serius, yaitu masih banyak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang terperangkap dalam siklus ketergantungan bantuan sosial (bansos) selama lebih dari lima tahun. Kondisi ini mendesak perlunya transformasi program yang lebih produktif.
Kementerian Sosial (Kemensos) secara aktif mengupayakan agar masyarakat penerima manfaat dapat mengembangkan kualitas hidup mereka secara mandiri. Melalui penguatan sektor pemberdayaan, diharapkan mereka mampu keluar dari garis kemiskinan tanpa intervensi berkelanjutan.
Kerja sama yang erat dengan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), termasuk Bank Mandiri, dinilai sangat krusial untuk menyukseskan visi pemberdayaan ini. Pemerintah menyadari bahwa sektor perbankan adalah mitra vital dalam mengubah profil ekonomi kelompok rentan.
Wamensos menjelaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk bantuan yang bersifat produktif. Salah satu inisiatif yang telah berjalan adalah pemberian bantuan ternak ayam petelur di beberapa wilayah Indonesia.
Program peternakan ini dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga penerima manfaat, tetapi juga untuk menciptakan sumber penghasilan tambahan melalui penjualan hasil produksi telur. Hal ini mendorong kemandirian pangan dan ekonomi sekaligus.