Kabupaten Bandung, JABARONLINE.COM —Kepulan asap tebal berwarna cokelat kehitaman yang keluar dari cerobong pabrik PT Hakatex di Jalan Raya Mohammad Toha Km 5,6, Kabupaten Bandung, menjadi sorotan. Asap tersebut terpantau keluar selama lebih dari satu setengah menit saat wartawan melintasi lokasi, sehingga memunculkan dugaan potensi pencemaran udara.

Menindaklanjuti temuan tersebut, awak media berupaya meminta klarifikasi langsung kepada pihak perusahaan sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial.

Setibanya di area pabrik, wartawan diterima oleh petugas keamanan dan menyampaikan maksud kedatangan untuk meminta penjelasan terkait kepulan asap dari cerobong pabrik.

Petugas keamanan kemudian meminta nomor kontak wartawan untuk diteruskan kepada bagian Human Resources Development (HRD). Pada Jumat, 30 Januari 2026, wartawan dihubungi perwakilan PT Hakatex dari bagian HRD, Slamet Wiyono, yang mengundang awak media untuk kembali datang ke pabrik pada Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 13.30 WIB.

Namun, setelah hadir dan menunggu cukup lama di lokasi, pihak HRD yang mengundang tidak menemui awak media. Perusahaan kemudian mendelegasikan seorang teknisi bernama Agan untuk memberikan penjelasan terkait keluarnya asap dari cerobong.

Agan menjelaskan bahwa asap tebal tersebut berkaitan dengan sistem kerja mesin boiler yang beroperasi secara otomatis menyesuaikan kebutuhan tekanan dan beban produksi.

Menurutnya, ketika tekanan mencapai batas tertentu, mesin akan berhenti dan berada dalam kondisi siaga. Sebaliknya, saat tekanan menurun, mesin kembali beroperasi secara otomatis.

Ia mengibaratkan sistem tersebut seperti kendaraan bermotor, di mana penggunaan bahan bakar disesuaikan dengan kondisi. Ketika kebutuhan meningkat, mesin bekerja lebih berat, dan akan menurun secara otomatis saat kondisi kembali stabil.

Selain faktor mesin, kualitas bahan bakar batu bara juga disebut berpengaruh terhadap hasil pembakaran.