INFOTERKINI.ID - Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan penerapan dua skema layanan baru yang signifikan untuk pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 mendatang. Kebijakan ini dirancang secara spesifik untuk mengelola dan memitigasi risiko yang timbul akibat kepadatan ekstrem selama fase krusial haji, khususnya di Muzdalifah dan Mina.

Dua strategi utama yang akan diimplementasikan adalah Skema Murur dan Program Tanazul, yang keduanya bertujuan untuk menjamin keselamatan serta kenyamanan maksimal bagi seluruh jemaah calon haji reguler Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas layanan haji nasional.

Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menyampaikan bahwa Skema Murur akan diterapkan pada sekitar 50 persen dari total kuota jemaah haji reguler Indonesia. Keputusan ini diambil sebagai respons langsung terhadap tantangan logistik mobilitas di Muzdalifah yang memerlukan penanganan khusus guna menghindari potensi bahaya keselamatan jiwa jemaah, dilansir dari Cahaya.

Dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi VIII DPR RI di Jakarta pada Rabu (8/4/2026), Menteri Irfan Yusuf merinci bahwa sebanyak 100.930 jemaah akan mengikuti Skema Murur. Jumlah ini dipastikan setara dengan separuh dari keseluruhan alokasi kuota haji reguler yang diterima Indonesia.

Skema Murur sendiri didefinisikan sebagai pola pergerakan jemaah dari Arafah menuju Mina yang dilakukan tanpa proses turun dari kendaraan saat melintasi Muzdalifah. Jemaah akan tetap berada di dalam bus mereka selama perjalanan melewati area Muzdalifah yang padat tersebut.

"Murur ini merupakan bentuk keringanan atau rukhsah yang diberikan untuk menjaga keselamatan jemaah, terutama di tengah kondisi kepadatan ekstrem saat puncak haji," ujar Mochamad Irfan Yusuf.

Menteri Haji dan Umrah menjelaskan lebih lanjut bahwa penerapan Murur adalah aktualisasi dari prinsip menjaga keselamatan jiwa dan implementasi nyata konsep kemudahan dalam beribadah. Pelaksanaan skema ini akan melibatkan armada bus khusus dari masing-masing markaz yang disertai pengawalan petugas resmi.

"Keberangkatan jemaah yang menggunakan skema Murur dijadwalkan secara bertahap, dimulai pukul 19.00 waktu Arab Saudi untuk zona 3 dan 4, kemudian dilanjutkan untuk zona 5 menjelang tengah malam," tambah Mochamad Irfan Yusuf.

Selain fokus pada pergerakan di Muzdalifah, pemerintah juga memperkenalkan Program Tanazul sebagai alternatif di area Mina. Program ini memberikan fasilitas bagi jemaah untuk tidak menginap di tenda Mina, melainkan memilih kembali ke akomodasi hotel mereka di Makkah.