Dahulu, aku mengira kedewasaan adalah angka yang bertambah secara otomatis setiap kali lilin ulang tahun ditiup. Namun, kenyataan menghantamku dengan keras melalui sebuah kegagalan yang meruntuhkan seluruh rencana masa depanku dalam sekejap mata.
Kehilangan pegangan di saat beban tanggung jawab sedang memuncak membuat duniaku terasa gelap gulita tanpa arah. Aku terpaksa menelan ego dan mulai memandang hidup dari sudut yang jauh berbeda dari kenyamanan yang biasa kunikmati.
Setiap malam, aku merenungi setiap bab dalam novel kehidupan yang sedang kutulis sendiri dengan tetesan air mata dan keringat. Ternyata, menjadi dewasa berarti berani bertanggung jawab atas hal-hal yang bahkan bukan sepenuhnya kesalahan kita.
Aku mulai mengambil pekerjaan apa saja, mulai dari mengantar barang hingga membantu di pasar subuh demi menyambung napas keluarga. Tak ada lagi rasa malu yang tersisa, yang ada hanyalah tekad kuat untuk melihat senyum orang tua kembali merekah.
Kesabaran yang selama ini asing bagiku kini menjadi teman setia di setiap langkah kaki yang terasa semakin berat. Aku belajar mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, memahami bahwa setiap manusia memiliki luka yang tak selalu terlihat.
Perlahan, badai mulai mereda dan aku menemukan kekuatan baru yang tidak pernah kusadari keberadaannya di dalam jiwa. Kedewasaan ternyata bukan tentang kemenangan mutlak, melainkan tentang seberapa tangguh kita berdiri setelah terjatuh berkali-kali.
Kini, aku berdiri dengan tegak dan menyadari bahwa luka-luka masa lalu adalah hiasan paling indah dalam proses pendewasaan ini. Sebab, pada akhirnya, bukan waktu yang mendewasakan kita, melainkan keberanian untuk tetap berjalan di tengah badai yang paling sunyi sekalipun.