Dulu, aku mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal bertambahnya angka usia dan kebebasan menentukan pilihan. Namun, kenyataan menghantamku dengan keras saat semua rencana yang kususun rapi hancur berkeping-keping dalam semalam.
Kegagalan itu terasa seperti lubang hitam yang siap menelan seluruh semangat dan impian yang pernah aku banggakan. Aku terpuruk dalam sunyi, mempertanyakan di mana letak keadilan saat usaha keras seolah tak membuahkan hasil sama sekali.
Dalam kesendirian itu, aku mulai menyadari bahwa air mata bukanlah tanda kelemahan, melainkan proses penyucian jiwa. Aku belajar mendengarkan detak jantungku sendiri yang tetap berjuang meski dunia di sekitarku terasa runtuh.
Perlahan, aku mulai memunguti serpihan diri yang berserakan dan mencoba menyusunnya kembali dengan perekat kesabaran. Setiap luka yang menganga kini kulihat sebagai peta perjalanan yang menunjukkan arah menuju versi diriku yang lebih kuat.
Aku menyadari bahwa setiap bab yang kutulis dalam Novel kehidupan ini memiliki tujuannya masing-masing, baik itu suka maupun duka. Tidak ada halaman yang sia-sia, karena rasa sakit itulah yang mengajariku cara berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Kedewasaan ternyata bukan tentang ketiadaan masalah, melainkan tentang bagaimana kita merespons badai dengan ketenangan hati. Aku mulai memaafkan masa lalu dan merangkul ketidakpastian sebagai bagian dari petualangan yang indah.
Kini, aku tidak lagi takut pada kegelapan karena aku tahu bahwa bintang-bintang hanya bisa terlihat saat langit benar-benar hitam. Setiap napas yang kuhela adalah bukti bahwa aku telah menang atas ego dan keputusasaan yang sempat membelenggu.
Perjalanan ini memang belum berakhir, namun aku telah menemukan kompas sejati di dalam relung kalbu yang paling dalam. Sebab pada akhirnya, dewasa adalah saat kita mampu tersenyum pada luka dan berkata, "Terima kasih telah menjadikanku manusia."