JABARONLINE.COM, Medan — Perubahan iklim global yang semakin nyata disebut menjadi pemicu meningkatnya frekuensi bencana alam di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada penghujung tahun 2025 di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi contoh dampak langsung dari cuaca ekstrem akibat pemanasan bumi.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, dalam Diskusi Ilmiah bertajuk “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” yang digelar di Kampus Universitas Sumatra Utara (USU), Medan, pada Selasa (10/2/2026).
“Bencana alam yang terjadi akhir tahun lalu di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebabkan iklim dunia yang terus memanas serta adanya siklon tropis di sekitar Sumatra,” ujar Dr. Ardhasena.
Bibit Siklon Tropis Banyak Muncul di Laut Banda
Dalam paparannya, Dr. Ardhasena menjelaskan bahwa wilayah Laut Banda kerap menjadi titik awal munculnya bibit siklon tropis.
“Ada 10 badai tropis yang awal tumbuhnya di Laut Banda. Jika diperluas sedikit ke arah selatan, tercatat lebih dari 30 siklon tropis tumbuh di sana. Wilayah ini sering menjadi titik awal bibit siklon,” katanya.
Fenomena tersebut turut memperburuk kondisi cuaca di Indonesia, terutama saat memasuki periode curah hujan tinggi.
Curah Hujan Ekstrem Picu Bencana di Akhir 2025
Perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrem mendorong terjadinya hujan deras dengan intensitas tidak biasa di Sumatra pada November hingga Desember 2025.