JABARONLINE.COM, Teheran — Putra Presiden Iran, Yousef Pezeshkian, menyerukan agar pemerintah mencabut pembatasan internet yang masih diberlakukan di negaranya. Ia menilai pemadaman akses digital tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya menunda penyebaran fakta terkait protes yang ditumpas secara brutal.

Dalam unggahan di Telegram, Yousef mengatakan penutupan internet justru akan memperbesar ketidakpuasan publik dan memperlebar jarak antara rakyat dan pemerintah. Ia menegaskan bahwa beredarnya video kekerasan dalam protes adalah hal yang “cepat atau lambat harus dihadapi.”

Di tengah pembatasan yang hanya dilonggarkan secara sporadis, sejumlah laporan menyebut penindakan aparat berlangsung brutal. Kelompok hak asasi manusia mendokumentasikan ribuan korban tewas, sementara ribuan lainnya masih ditahan. Rumah sakit juga dilaporkan kewalahan menangani korban, termasuk kasus cedera mata dalam jumlah besar.

Iran Buka Peluang Lanjutkan Pembicaraan Nuklir dengan AS

Pernyataan Yousef seperti yang dikutif guardian.com, Minggu,(25/01) muncul saat terjadi perbedaan sikap di internal pemerintahan terkait pelonggaran internet. Presiden dan Menteri Komunikasi disebut mendukung pencabutan pembatasan, namun langkah itu ditentang oleh pejabat keamanan.

Selain isu politik dan keamanan, pemadaman internet juga memukul perekonomian. Pasar saham Teheran terus melemah, nilai tukar rial merosot, inflasi resmi dilaporkan tinggi, serta aktivitas perdagangan dinilai lesu.

Organisasi perdagangan komputer Iran mengklaim kerugian mencapai puluhan juta dolar per hari akibat gangguan konektivitas, sementara pelaku usaha mengeluhkan akses internet yang sangat terbatas.

Di tengah situasi ini, kritik terhadap pemerintah semakin menguat, termasuk soal lemahnya respons dalam memulihkan ekonomi dan mengatasi krisis sosial yang terus berkembang.(AS/JO/Sumber: guardian.com).