Langit sore itu seakan mengerti beratnya beban yang kupikul sendirian di pundak yang mulai lelah. Aku berdiri di persimpangan jalan, menyadari bahwa pelarian bukan lagi sebuah pilihan yang bijak untuk masa depanku.
Dahulu, aku sering menyalahkan semesta atas setiap kerikil tajam yang melukai telapak kakiku tanpa ampun. Amarah adalah bahasa utamaku saat kenyataan tidak berjalan sesuai dengan rencana-rencana besar yang kususun rapi.
Hingga suatu malam, sunyi menyergap dan memaksaku untuk bercermin pada luka-luka lama yang belum mengering. Di sana, aku melihat sosok yang rapuh namun keras kepala, menolak untuk tumbuh karena takut akan beratnya tanggung jawab.
Setiap lembar peristiwa yang kulalui kini terasa seperti bab-bab penting dalam sebuah Novel kehidupan yang penuh kejutan. Aku mulai belajar bahwa menjadi dewasa bukan tentang angka usia, melainkan tentang bagaimana kita merespons rasa sakit dengan kepala dingin.
Aku berhenti menuntut dunia untuk bersikap adil dan mulai menuntut diriku sendiri untuk belajar bersikap lebih sabar. Ketenangan perlahan merayap masuk, menggantikan kegaduhan ego yang selama ini merajai isi kepala dan hatiku.
Maaf menjadi kata yang lebih mudah terucap, bukan karena aku selalu salah, tapi karena kedamaian jauh lebih berharga. Aku menemukan kekuatan besar dalam kerendahan hati yang sebelumnya selalu kuanggap sebagai tanda kelemahan diri.
Kini, aku memandang badai bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai cara alam membersihkan debu-debu kesombongan di jiwa. Langkah kakiku terasa jauh lebih ringan meskipun beban yang kubawa mungkin masih tetap sama beratnya seperti dulu.
Ternyata, kedewasaan adalah seni untuk tetap berdiri tegak saat badai menerpa tanpa harus mematahkan dahan milik orang lain. Di akhir hari, aku hanya ingin menjadi versi terbaik dari diriku yang pernah hancur namun berhasil bangkit dengan cahaya baru.