JABARONLINE.COM - Di lereng kawasan Hutan Jeruk Mipis, sebuah bangunan darurat berdiri di antara pepohonan liar dan tanah yang rawan bergerak. Bangunan itu nyaris roboh, beratapkan potongan seng tua yang ditahan plastik sobek, tanpa pelindung dinding yang layak. 

Saat angin bertiup, gubuk tersebut bergoyang, seolah menantang waktu.

Di tempat itulah Uloh, seorang lansia berusia 70 tahun, bertahan hidup seorang diri. 

Hari-harinya diisi dengan duduk diam di atas rangka bambu sederhana. Tubuhnya yang semakin renta kerap digerogoti nyeri, terutama di bagian kaki yang pernah tertimpa reruntuhan saat bencana melanda.

Uloh merupakan warga Kampung Babakan Cisarua, RT 02 RW 15, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. 

Sudah sembilan bulan ia hidup dalam keterasingan setelah bencana longsor dan banjir besar pada Maret 2025 menghapus hampir seluruh jejak kehidupannya. 

Rumahnya hancur, harta benda lenyap, dan istrinya, Ooy, meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Malam kejadian masih tersimpan kuat dalam ingatannya. Ia mengisahkan bagaimana tanah bergerak tiba-tiba, disusul bangunan yang runtuh tanpa memberi kesempatan menyelamatkan diri.

“Kejepit semuanya, tidak bisa bergerak,” katanya dengan suara pelan saat ditemui, Kamis (8/1/2026).