INFOTERKINI.ID - Momentum perayaan Lebaran Ketupat yang jatuh pada Sabtu, 28 Maret 2026, diprediksi oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan memicu gelombang mobilitas masyarakat lanjutan. Tradisi yang diadakan sepekan pasca Idul Fitri 1447 H ini berpotensi besar mendorong pergerakan arus balik tambahan sebelum masa libur berakhir.
Kemenhub telah menyusun berbagai strategi mitigasi guna mengantisipasi kepadatan yang mungkin terjadi di simpul-simpul transportasi utama. Masyarakat dihimbau secara proaktif untuk mengatur jadwal perjalanan mereka agar tidak terkonsentrasi pada waktu puncak kepulangan.
Lebaran Ketupat merupakan tradisi penting di Indonesia, khususnya Jawa, yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri, seringkali identik dengan hidangan ketupat. Pada tahun 2026, tanggal 28 Maret ini dekat dengan puncak arus balik yang diperkirakan terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret 2026.
Koperasi Kana Membuka Lembaran Baru: Dari UKM Menuju Korporasi Rakyat Berkapasitas Eksponensial
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Kemenhub, Ernita Titis Dewi, menyoroti bahwa penumpukan pergerakan cenderung terjadi dalam rentang waktu yang sempit di akhir pekan. Hal ini memerlukan antisipasi khusus agar tidak terjadi kemacetan parah di jalur arteri utama dan pelabuhan penyeberangan.
"Pergerakan masyarakat cenderung terkumpul dalam waktu singkat, sehingga perlu diantisipasi untuk mencegah kepadatan di jalan utama dan simpul transportasi," ujar Titis Dewi.
Titik krusial yang diawasi ketat adalah jalur penyeberangan feri, khususnya lintas Bakauheni dan Ketapang. Peningkatan volume kendaraan dan penumpang di area ini sangat mungkin terjadi jika perencanaan perjalanan oleh masyarakat kurang terdistribusi dengan baik.
Untuk mengatasi potensi antrean di Pelabuhan Ketapang, Kemenhub berencana mengoptimalkan penerapan buffer zone dan delaying system. Pengaturan khusus juga disiapkan bagi kendaraan barang sumbu dua yang tidak termasuk dalam pembatasan operasional.
Kesiapan infrastruktur pendukung juga ditingkatkan, di mana buffer zone untuk kendaraan roda empat dan bus disiapkan di Gran Watudodol serta Kantong Parkir Bulusan. Sementara itu, kendaraan barang akan diarahkan ke buffer zone Sri Tanjung serta kantong parkir PT Pusri dan Pelindo, seperti dilansir dari Cahaya.
Kapasitas armada penyeberangan juga akan disesuaikan dengan proyeksi kepadatan penumpang. Jumlah kapal yang beroperasi akan ditingkatkan dari kondisi normal 28 kapal, menjadi 30 kapal saat padat, bahkan mencapai 32 kapal pada kondisi yang dianggap sangat padat.