INFOTERKINI.ID - Rumi hanya mengenal bahasa pahat; jemarinya yang kasar lebih fasih berbicara daripada pita suaranya yang tak pernah terjamah bunyi. Ia tinggal di tepi desa yang diselimuti kabut pagi abadi, mendedikasikan hidupnya untuk mengubah bongkahan kayu mati menjadi mahakarya yang bernapas.

Setiap ukiran adalah jeritan sunyi yang tak terungkap, sebuah dialog antara jiwa dan materi yang keras, hingga ia bertemu dengan Elara, seorang guru musik yang membawa melodi ke dalam dunianya yang hening. Elara melihat lebih dari sekadar kebisuan; ia mendengar simfoni yang tersimpan di balik mata Rumi yang teduh.

Namun, takdir seringkali menulis alur yang lebih rumit dari yang bisa dibayangkan oleh seniman mana pun. Sebuah badai tak terduga merenggut Elara dari sisinya, meninggalkan Rumi terdampar di lautan duka yang dingin dan membekukan. Rasa sakit itu menusuk, mengancam untuk mematikan semua percikan kreativitas yang pernah Elara nyalakan.

Dunia Rumi seakan berhenti berputar, palu dan pahatnya teronggok tanpa guna, tertutup debu seperti kenangan yang enggan disentuh. Ia mencoba lari dari kenyataan, namun bayangan Elara selalu hadir dalam serat kayu yang ia tolak untuk disentuh.

Inilah awal dari babak baru dalam Novel kehidupan Rumi, sebuah perjalanan menyakitkan menuju penerimaan diri dan makna kehilangan yang sesungguhnya. Ia menyadari bahwa keindahan sejati bukan hanya tentang menciptakan, tetapi juga tentang membiarkan diri hancur dan kemudian bersatu kembali dengan pola yang baru.

Didorong oleh surat terakhir Elara yang berbicara tentang kekuatan suara hati, Rumi kembali ke bengkelnya dengan tekad baja yang dibalut kesedihan yang mendalam. Ia memutuskan untuk mengukir sebuah patung perpisahan, bukan untuk menahan Elara, melainkan untuk melepaskan kepergiannya dengan hormat dan cinta abadi.

Proses pengukiran itu memakan waktu berbulan-bulan, setiap sayatan adalah air mata yang mengering, setiap detail adalah janji yang ditepati. Patung itu bukan lagi sekadar kayu; ia adalah jiwa Rumi yang telah direkonstruksi, lebih kuat, lebih rentan, dan penuh pengertian.

Ketika patung itu selesai, berdiri tegak dengan keindahan yang menyayat hati, Rumi akhirnya menemukan suaranya—bukan melalui pita suara, melainkan melalui karya seninya yang kini berbicara lantang tentang ketabahan. Ia mengerti bahwa hidup adalah rangkaian patah dan sambung, sebuah Novel kehidupan yang harus terus ditulis meski tintanya bercampur air mata.

Patung itu ia letakkan di tempat Elara biasa bermain biola, di bawah pohon beringin tua. Rumi tidak lagi mencari kesempurnaan, ia mencari makna. Tapi, saat patung itu diterpa sinar matahari pertama setelah badai kesedihannya berlalu, ukiran mata patung itu tampak berkedip, seolah memanggil Rumi untuk melihat ke arah jalan setapak yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya...