INFOTERKINI.ID - Perkembangan pesat dunia digital telah melahirkan berbagai fenomena psikologis baru, salah satunya adalah Fear of Missing Out atau yang lebih dikenal luas sebagai FOMO. Kondisi ini kini semakin banyak dialami oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.

Pemicu utama munculnya perasaan cemas ini seringkali berasal dari paparan intens terhadap unggahan aktivitas orang lain di platform media sosial. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, FOMO dapat memberikan dampak signifikan.

Dampak negatif FOMO tidak hanya terbatas pada aspek emosional, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas finansial seseorang. Oleh karena itu, penting untuk memahami akar masalah dan mencari solusi efektif.

Secara definisi, FOMO merupakan perasaan cemas atau ketakutan yang dirasakan seseorang lantaran merasa tertinggal dari informasi penting, tren terbaru, atau aktivitas menarik yang sedang diikuti oleh orang lain. Fenomena ini sangat erat kaitannya dengan interaksi daring.

Kecemasan ini biasanya memuncak ketika individu menyaksikan pencapaian atau momen keseruan orang lain di linimasa, yang kemudian menimbulkan perasaan bahwa dirinya terasing dari momen tersebut. Dilansir dari bogorplus.id, kondisi ini kian relevan di zaman konektivitas tinggi.

Mengatasi FOMO memerlukan kesadaran diri yang tinggi dan penerapan strategi praktis dalam mengelola penggunaan teknologi. Langkah awal adalah mengenali gejala spesifik yang menandakan seseorang sedang mengalami kondisi ini.

Salah satu cara efektif untuk meredam rasa takut ketinggalan adalah dengan membatasi waktu yang dihabiskan untuk menelusuri media sosial. Praktik ini membantu memutus siklus perbandingan sosial yang tidak sehat.

"Perasaan gelisah saat melihat unggahan aktivitas orang lain di media sosial sering kali menjadi pemicu utama kondisi ini," demikian disampaikan oleh salah satu analisis psikologi dalam berita tersebut.

Lebih lanjut, dampak negatif FOMO dijelaskan dengan tegas, "Jika tidak disikapi dengan bijak, FOMO berpotensi mengganggu kesehatan mental hingga stabilitas finansial seseorang," kutipan tersebut menegaskan urgensi penanganan.