Aku ingat betul diriku yang dulu, seorang pemuda yang hidup dalam gelembung kenyamanan, yakin bahwa masa depan hanyalah garis lurus yang telah diaspal mulus oleh usaha orang tua. Hari-hariku dipenuhi dengan rencana-rencana yang indah, tanpa pernah terlintas sedikit pun bahwa takdir memiliki skenario yang jauh lebih brutal dan mendewasakan. Aku terlalu naif untuk menyadari bahwa kemewahan terbesar adalah kebebasan dari rasa khawatir.

Titik balik itu datang tanpa peringatan, seperti badai yang menyapu habis dermaga yang kukuh. Kehilangan yang mendadak membuatku harus menanggung beban yang seharusnya belum menjadi tanggung jawabku, yaitu menjaga warisan kecil kakek berupa sanggar seni yang nyaris bangkrut. Dunia yang semula terang benderang tiba-tiba redup, memaksaku menghadapi realitas pahit di mana uang bukanlah satu-satunya mata uang yang berlaku.

Awalnya, aku memberontak. Aku marah pada semesta yang seolah merampas hakku untuk menjadi muda dan bebas dari beban. Setiap hari di sanggar terasa seperti hukuman, berhadapan dengan tumpukan tagihan dan tatapan penuh harap dari para seniman yang menggantungkan hidup padaku. Aku merindukan masa ketika masalah terbesarku hanyalah memilih film mana yang akan kutonton malam ini.

Namun, di tengah kelelahan fisik dan mental itu, sesuatu mulai bergeser di dalam diriku. Aku mulai belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara janji kosong dan komitmen sejati. Aku harus belajar berbicara dengan tegas, bernegosiasi dengan kreditor, dan yang paling sulit, mengakui bahwa aku tidak tahu segalanya.

Malam-malam panjang di depan laporan keuangan yang kusut mengajarkanku tentang ketekunan yang sebenarnya. Aku mulai melihat nilai dari setiap sen yang masuk dan keluar, bukan sebagai angka, melainkan sebagai keringat dan harapan banyak orang. Tangan yang dulu hanya terampil memegang gawai kini mahir memperbaiki atap bocor atau merangkai proposal dana.

Perjalanan ini, dengan segala kesulitan dan air mata yang tumpah, adalah sebuah skrip yang ditulis oleh takdir. Aku menyadari bahwa apa yang kualami adalah sebuah narasi otentik, sebuah Novel kehidupan yang tak bisa diulang atau diedit. Setiap kegagalan adalah babak penting, dan setiap keberhasilan kecil adalah penguat untuk melanjutkan halaman berikutnya.

Aku mulai mendengar pujian tulus dari para tetua di sanggar, bukan lagi sebagai Rendra anak dari, melainkan sebagai Rendra yang bertanggung jawab. Mereka melihat kegigihan yang tidak pernah kuketahui ada dalam diriku. Pengalaman ini membentukku bukan hanya sebagai manajer yang lebih baik, tetapi sebagai manusia yang lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Kini, ketika aku menatap cermin, aku tidak lagi melihat pemuda manja yang dulu. Ada garis kelelahan di sudut mata, namun juga ada ketenangan yang terpancar dari kedalaman jiwa. Kedewasaan bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa banyak tanggung jawab yang kita pikul dan seberapa jujur kita menghadapinya.

Jika dulu aku percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup tanpa masalah, sekarang aku tahu bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang mampu melewati badai dan tetap berdiri tegak. Aku telah kehilangan banyak hal, tetapi sebagai gantinya, aku menemukan diriku yang sebenarnya—seorang pejuang yang baru saja memulai babak paling menantang dalam kisah hidupnya.