INFOTERKINI.ID - Lanskap otomotif Indonesia sedang mengalami transformasi besar, yang menandai berakhirnya hegemoni merek-merek Jepang yang telah berlangsung selama lima dekade terakhir. Pergeseran signifikan ini didorong oleh masuknya gelombang kendaraan listrik (EV) yang didominasi oleh produsen dari China, dilansir dari Money.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan selera konsumen, melainkan hasil dari strategi integrasi vertikal yang terstruktur dan dukungan kebijakan pemerintah yang agresif. Strategi China mencakup penguasaan rantai pasok, mulai dari penambangan nikel hingga perakitan kendaraan di hilir.
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, produsen China telah mengukuhkan diri sebagai kekuatan utama dalam elektrifikasi transportasi di pasar nasional. Periode 2024-2025 menunjukkan kontras menarik, di mana pasar kendaraan konvensional (ICE) menyusut tajam sementara segmen EV tumbuh secara eksponensial.
Data industri menunjukkan bahwa sementara total penjualan kendaraan ringan mengalami kontraksi sekitar 11 persen pada tahun 2025, adopsi EV justru melonjak hingga 49 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh penetrasi masif merek-merek China berkat strategi penetapan harga yang sangat kompetitif untuk teknologi EV.
Pada tahun 2024, volume penjualan wholesale mobil listrik berbasis baterai (BEV) mencapai 43.104 unit, meningkat 2,5 kali lipat dari tahun sebelumnya. Sekitar 90 persen dari total penjualan ini dikuasai oleh sembilan produsen asli (OEM) yang berasal dari China.
BYD, yang mulai mengirimkan unit secara masif pada pertengahan 2024, berhasil memimpin dengan pengiriman 6.142 unit melalui model M6, menjadikannya model listrik terlaris sepanjang tahun tersebut. Keberhasilan model MPV listrik ini mencerminkan pemahaman mendalam manufaktur China terhadap kebutuhan pasar Indonesia akan kendaraan keluarga berkapasitas besar.
Hingga November 2025, total penjualan mobil listrik nasional telah melampaui angka 82.525 unit. Peta persaingan semakin jelas dengan lima besar merek terlaris yang kini seluruhnya berasal dari Negeri Tirai Bambu, menyingkirkan Hyundai dari Korea Selatan.
Wuling Motors, sebagai salah satu pionir yang telah membangun basis sejak 2017, terus mempertahankan eksistensinya melalui model BinguoEV dan Air ev. Sementara itu, Chery semakin menguatkan posisinya lewat penjualan signifikan model Omoda E5.
Keberhasilan merek China ini sangat ditopang oleh komitmen investasi manufaktur yang serius dan kepatuhan terhadap regulasi lokalisasi pemerintah. Melalui Peraturan Presiden No. 79 Tahun 2023, pemerintah menawarkan pembebasan bea masuk dengan syarat perakitan lokal (CKD) dalam jangka waktu yang ditentukan.