Kereta senja membawaku kembali ke kota kecil yang dulu ingin sekali kutinggalkan dengan penuh amarah. Aku menatap pantulan wajahku di jendela, menyadari bahwa gurat lelah ini bukan lagi milik remaja yang keras kepala.

Rumah tua itu masih berdiri kokoh, meski catnya mulai mengelupas dimakan waktu dan kenangan pahit. Ayah menyambutku dengan punggung yang kian membungkuk, membuat egoku luruh seketika di hadapan kerapuhannya.

Dahulu, aku merasa dunia berputar hanya untuk memuaskan ambisiku tanpa memedulikan mereka yang tertinggal. Namun, setiap lembaran peristiwa yang kualami kini terasa seperti bab-bab dalam sebuah novel kehidupan yang penuh kejutan.

Malam itu kami duduk di beranda, hanya ditemani suara jangkrik dan aroma tanah basah setelah hujan reda. Tidak ada teriakan atau perdebatan, hanya keheningan yang justru menyampaikan ribuan kata maaf yang tak sempat terucap.

Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang kuraih di ibu kota sana. Kedewasaan justru lahir saat aku mampu menelan pahitnya kenyataan dan tetap memilih untuk bersikap lembut.

Ibu menyuguhkan teh hangat dengan tangan yang sedikit gemetar, sebuah pemandangan yang menyayat relung hati terdalamku. Di titik ini, aku sadar bahwa waktu adalah pencuri yang paling kejam sekaligus guru yang paling bijaksana.

Kesalahan masa lalu tidak lagi kulihat sebagai beban, melainkan sebagai fondasi untuk membangun diri yang lebih tangguh. Aku berhenti menyalahkan keadaan dan mulai mengambil tanggung jawab penuh atas setiap langkah yang kupijak.

Langit malam tampak lebih luas saat aku melepaskan semua dendam yang selama ini mendekam erat di dada. Ada kedamaian aneh yang menyelinap, sebuah rasa syukur yang belum pernah kurasakan sepanjang perjalanan hidupku.

Pagi harinya, aku terbangun dengan tekad baru untuk memperbaiki apa yang sempat rusak oleh keangkuhan masa muda. Setiap helaan napas kini terasa lebih bermakna, membawa harapan bahwa hari esok akan selalu memberi ruang untuk bertumbuh.